NTT AKTUAL. KUPANG. UPTD Museum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT menyelenggarakan kegiatan Seminar Kajian Kain Tenun Kabupaten Lembata yang mengusung tema “Menghargai Karya Tangan Perempuan Lembata”, pada Rabu (30/Oktober/2024).
Kegiatan yang berlangsung di Aula kantor UPTD Museum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT ini dibuka secara resmi oleh oleh Kepala UPTD Museum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Aplinuksi M.A Asamani, S.Sos,M.Si, yang dalam hal ini mewakili Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT.
Saat membacakan sambutan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, pada pembukaan kegiatan Seminar Kajian Kain Tenun Kabupaten Lembata, Kepala UPTD Museum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Aplinuksi M.A Asamani, S.Sos,M.Si, mengatakan Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur kaya akan keragaman etnis, bahasa dan logat, adat-istiadat, produk budaya, dan lain-lain namun bersatu dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika.
Kehadiran Museum NTT memiliki peran dan misi khusus dalam melestarikan budaya NTT termasuk di dalamnya adalah mengumpulkan produk budaya, mengkaji, merawat, dan mengkomunikasikannya ke masyarakat melalui kegiatan-kegiatan yang melibatkan masyarakat sebagai pemilik kebudayaan Nusa Tenggara Timur.

Dalam dunia pendidikan, Museum berperan sebagai “sekolah kedua” yang terbuka bagi semua kalangan yang berkunjung dan memanfaatkan museum melalui pengalaman yang rekreatif dan edukatif, karena museum menawarkan pengalaman inderawi berupa sajian koleksi dan informasi sebagai model kecerdasan dan kearifan lokal yang berkaitan dengan sejarah kebudayaan dan peradaban masa lampau, jelas Aplinuksi.
“Beberapa waktu yang lalu, UPTD Museum melakukan pengkajian tenunan Lembata. Sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kami berharap kajian tersebut dilakukan berpatokan pada koleksi museum yang telah dikumpulkan dan/atau diperoleh dari masyarakat untuk memperkaya informasi sehingga transformasi dan re-aktualisasi nilai-nilai budaya dapat terwujud, dan siapa saja yang mengakses museum memperoleh manfaatnya,” ujarnya.
Kegiatan seminar ini hendaknya menjadi sarana diskusi, tukar pikiran, ide, opini agar dimanfaatkan lebih lanjut dalam melengkapi hasil kajian ini, tambahnya.
Kehadiran para akademisi, peneliti, pengamat, dan praktisi di bidang kebudayaan sangat diperlukan agar kegiatan ini dapat menjadi ruang interaksi akademik.
“Kiranya seluruh rangkaian acara dapat berlangsung dengan lancar, serta sukses membawa hasil dan manfaat sebagaimana yang diharapkan,” pungkasnya.
Untuk diketahui jumlah peserta dalam kegiatan seminar ini kurang lebih berjumlah sebanyak 150 orang yang terdiri dari pejabat instansi terkait, Akademisi, pelaku budaya, pemerhati budaya dan mahasiswa.
Materi dalam kegiatan ini yaitu :
- Menghargai Karya Tangan Perempuan Lembata
- Eksistensi Tenunan Lembata
- Teknologi Warisan Leluhur Dipuncak Kebudayaan Nasional. (*/NA)
Penulis + Editor : Nataniel Pekaata





