Mengapa NTT Tetap Miskin, ini Pandangan Daniel Tagu Dedo (Bagian 3)

Daniel Tagu Dedo. Dokumentasi : istimewa

MENGAPA NTT 

TETAP MISKIN ? 

Bacaan Lainnya

SIAPA GUBERNUR & WAKIL GUBERNUR YANG AKAN MENGELUARKAN NTT DARI KEMISKINAN ?

Oleh : Daniel Tagu Dedo, S.E., M.Ak *)

Daniel Tagu Dedo. Dokumentasi : istimewa

Setelah dalam tulisan sebelumnya (bagian 2), Daniel Tagu Dedo yang menjadikan Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Bali sebagai perbandingan bagi Provinsi NTT dari aspek trend persentase kemiskinan, di bagian 3 ini Daniel Tagu Dedo lebih mengulas pada pandangan nya atau dengan kata lain sebagai salah satu solusi guna mengeluarkan Provinsi NTT dari kemiskinan.

Berikut pandangan Daniel Tagu Dedo :

BAGAIMANA SEHARUSNYA ?

Kita harus Kembali ke meja Perencanaan!!! Baik Rencana Pembangunan Jangka Pendek, Jangka Menengah dan Jangka Panjang NTT, baik ditingkat Desa, Kecamatan, Kabupaten dan Propinsi se NTT.

Meja Perencanaan, kita akan mulai berdebat dan menghasilkan kesepakatan untuk “perang terhadap kemiskinanfight against poverty”, dan efektif dalam Tindakan eksekusinya, caranya (ini masalah taktis – bukan strategis) :

1. Pengumpulan data – Data Mining :

Kenali, identifikasikan secara terperinci siapa saja mereka, jumlah mereka, jumlah susunan keluarga miskin ini, mata pencarian kepala keluarga dan istriknya, kegiatan anak-anaknya, bersekolah atau tidak, berapa penghasilan kepala keluarga dan/atau istri sebulan, sifat mata pencariannya (tetap, musiman, atau tidak menentu), sub-sektor ekonomi kegiatan mata pencariannya, berapa luas ukuran rumah mereka, type rumah (sangat tidak layak, sangat sederhana, sederhana), ukuran rumah, luas tanah kediaman mereka (satus tanah), luas tanah Garapan dan/atau milik sendiri / ulayat jika ada, apabila kegiatan tani, nelayan, pekebun, jenis komoditinya, berapa volumenya, kemana dipasarkan, melalui siapa atau siapa pengumpulnya, jarak sekolah dan puskemas, posyandu atau rumah sakit dan pasar terdekat dari lokasi tempat tinggal mereka, dan seterusnya;

2. Pengelompokkan data – Data Grouping / segmentation :

Buat kategorisasi segmentasi kemiskinan berdasarkan matrix di bawah ini, contoh dari sisi jumlah penghasilan:

3. Digitalisasi Data Kemiskinan, Program Pengentasan Kemiskinan dan Monitoring serta Mitigasi Kegagalan Pengentasan Kemiskinan di NTT.

Saya sarankan, digitalisasi data-data dan hasil pengolahan data berupa informasi-informasi ini dilaksanakan oleh Pokja Perang Melawan Kemiskian di NTT, dan Pusat data dan Pusat Pengolahan Digitalisasi di tempatkan pada Data Center Bank NTT. Mengapa harus di Bank NTT, karena pertimbangan keakuratan, keamanan dan keberlanjutan sistem dan informasi teknologi yang sudah menjadi bagian dari nadi kehidupan sebuah bank, 24/7 (sistem informasi teknologi Bank NTT di-setting tersedia 24 jam sehari dan 7 hari seminggu real-time).

4. Tetapkan Program Pengentasan Kemiskinan yang sesuai dengan segmentasi tersebut di atas, misalkan :

4.1 Kemiskinan Ekstrem, Kemiskinan Moderat dan Kemiskinan Relatif – mendapatkan Bantuan Tunai Langsung Rutin (BTLR) untuk memenuhi kebutuhan hidup sehingga meningkat menjadi level-3 Kemiskinan Relatif – dengan memperhatikan segmentasi usia produktif dan kegiatan produktif untuk memperoleh penghasilan di atas Upah Minimum Nasional, melalui : Pendidikan keahlian, bantuan peningkatkan produktifitas, akses perolehan kredit mikro dari Bank NTT dan akses Pasar yang akan dibantu oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang khusus disiapkan untuk itu, misalkan PT Flobamor.

4.2 Untuk yang berada di Luar Garis Kemiskinan namun tingkat pendapatan rumah tangga sama dengan rata-rata Nasional, dipastikan pelaksanaan program : peningkatan keahlian termasuk keahlian dalam pembuatan proposal usaha, proposal permohonan kredit, pemahaman aktifitas ekspor dan impor, manajemen keuangan usaha, peningkatan kualitas produk yang dihasilkan, manajemen pemasaran, bantuan akses kredit mikro ke Bank NTT, dan bantuan akses pemasaran melalui BUMD atau kerjasama dengan eksportir dan/atau pengusaha antar pulau.

4.3 Kaitkan program pengentasan Stunting dalam program perang terhadap kemiskinan: apalagi bertepatan dengan Pemerintahan Baru Prabowo-Gibran yang rencana memberikan makan siang GRATIS. Manfaatkan sebaik-baiknya program makan siang Gratis dan program bantuan stunting dengan sebaik-baiknya untuk mengentaskan stunting di NTT. Kerjasama Bank NTT dengan Danone untuk menjalankan program peningkatan nutrisi balita dan anak-anak remaja, hal ini sudah berhasil dijalankan Gremeen Bank Bangladesh dengan Danone, yang juga Danone terapkan di Afrika dan Amerika Latin dalam program perang terhadap kemiskinan di sana. Kerjasama Bank NTT dengan AQUA dan UNDP untuk penyediaan air bersih di desa-desa miskin se NTT. Bank NTT pernah mendapatkan hibah dana dari UNDP sebesar Rp.26 Milyar pada tahun 2013 saat saya bertugas sebagai Dirut di Bank ini. Hibah tersebut untuk melakukan penyediaan listrik bertenaga mikro hydro di Manggarai Timur dan Sumba Timur serta relokasi desa bencana di Flores. Menurut UNDP sesungguhnya potensi kerjasama dengan estimasi tambahan dana Rp.200 Milyar dapat dikembangkan yaitu “cost sharing CSR”. Program hibah ini dapat dilaksanakan untuk perang melawan kemiskinan di NTT.

4.4 Kaitkan Program Anti Human Trafficking dengan Program Terhadap Program Perang Melawan Kemiskinan di NTT : human trafficking adalah akibat lanjutan dari kemiskinan yang disebabkan kelangkaan lapangan kerja dan/atau kaum miskin NTT “tidak siap” bersaing dalam Angkatan kerja yang tersedia (yang memang sangat sempit peluang kerja di NTT, hanya berharap dengan pembukaan PNS). Bagaimana mengaitkan program perang melawan human trafficking :

a. Perhatikan program perang melawan kemiskinan yaitu “peningkatan keahlian”. Peningkatan keahlian kelompok miskin ekstrem, miskin moderat, miskin relative dan yang baru keluar dari kemiskinan, dikaitkan dengan aktifitas ekonomi mereka yang eksis dan juga tidak kalah penting harus dikaitkan dengan penting dengan sektor-sektor atau sub-sektor ekonomi yang dijadikan prime mover pertumbuhan ekonomi di NTT (lihat butir 5 di bawah ini). Sehingga kelompok Miskin ini langsung terlibat dalam dinamika pertumbuhan ekonomi NTT, mereka terbawa serta dalam program tersebut. [Perhatikan berbagai referensi tentang The New Africa di CNN]. Di Afrika kaum miskin ditingkatkan skill-nya dan dilibatkan dalam hilirisasi sub-sektor ekonomi sesuai potensi local dan bahkan aktifitas eksisting mereka.

b. Lakukan sosialisasi kepada seluruh masyarakat dalam segmentasi-segmentasi kemiskinan tentang “praktek-praktek” human trafficking dan dampak negatifnya bagi kehidupan mereka dan anak-anak mereka. Libatkan LSM (NGO) di bidang anti-human trafficking baik domestic maupun internasional, libatkan aparat kepolisian.

c. Terapkan dan sosialisasi law enforcement terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh Lembaga, personal, kelompok, perusahaan yang melakukan praktek illegal recruitment yang jelas mengarah kepada human trafficking. Sehingga menimbulkan efek jera dan menumbuhkan budaya perlawanan terhadap praktek-praktek illegal recruitment.

d. Memanggil Kembali para pekerja illegal asal NTT di luar negeri untuk mengisi lowongan kerja yang diciptakan di NTT pada sub-sektor ekonomi yang menjadi prime mover pertumbuhan ekonomi NTT.

e. Melakukan re-evaluasi terhadap seluruh pekerja asal NTT di luar negeri, untuk memahami kinerja produktif mereka dan skema kerjasama dengan perusahaan perekrut mereka di Indonesia bersama-sama dengan Lembaga Pemerintah terkait. Apabila tidak mensejahterakan mereka, maka jalankan Program Memanggil Kembali Pekerja Asal NTT.

4.5. Kaitkan Program Perang Terhadap Kemiskinan dengan Standar Layanan Kesehatan.  Kemiskinan biasanya berimbas terhadap rendahnya layanan Kesehatan yang bisa kaum miskin peroleh. Kalaupun ada kuantitasnya dan kualitas layanannya sangat terbatas dan mungkin jarak keberadaannya sangat jauh, sehingga menyulitkan bagi masyarakat miskin ini. Puskemas, Posyandu, Klinik Pratama, Prosedur Layanan BPJS, Rumah Sakit, ketersediaan tenaga medis, termasuk dokter umum dan dokter ahli. Jumlah Rumah Sakit di NTT berjumlah 45 Rumah Sakit (data BPS Propinsi NTT), 40 berada di Kota Kupang. Seharusnya NTT dengan Populasi 5 juta Jiwa harus memiliki 144 Rumah Sakit Kelas C, sesuai formula World Health Organization (WHO).

5. Tetapkan Prime Mover Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan yang dapat mengangkat aktifitas kelompok miskin berperan. Sektor Ekonomi yang berpotensi membawa dampak besar dalam penurunan angka kemiskinan di NTT, adalah sektor-sektor yang memang terlihat sulit, memerlukan investasi lebih tinggi, tingkat keahlian yang lebih terampil, dan pasar yang lebih spesifik. Tetapi itulah karunia yang TUHAN berikan untuk negeri gersang ini, yaitu:

5.1 Ekonomi kemaritiman : sektor kelautan dan budi-daya kelautan, yang terdiri dari perikanan tangkap, garam, budi-daya rumput laut, budi-daya mutiara, budi-daya udang, budi-daya lobster, dan sejenis merupakan sub-sektor ekonomi yang sangat menjanjikan di NTT. Sub-sektor ini sangat besar potensi ekonominya apabila digarap dengan sistem manajemen kemaritiman terapan yang tepat dan dengan melibatkan masyarakat nelayan dan petani-nelayan yang memang turun-temurun mengerjakan sektor ini. Yang perlu diusahakan adalah meningkatkan “nilai tambah” (added value) pada produk-produknya agar hilirisasi pada sub-sektor ini dapat memberikan multiplier efek secara ekonomi bagi para nelayan dan petani nelayan.

Faktor penting yang serius harus ditata adalah: Pendidikan keterampilan dalam aktifitas penangkapan ikan khususnya ikan-ikan yang berharga mahal seperti cakalang, keterampilan dalam menggunakan kapal penangkap ikan modern yang dilengkapi dengan peralatan sonar pendeteksian lokasi-lokasi kumpulan ikan dan peralatan navigasi dan keselamatan pelayaran; cold storage system yang hemat energi dipadukan dengan herbal system pengawetan ikan tangkap; pengetahuan tentang produk hilirisasi perikanan sesuai dengan permintaan pasar yang terbaik; manajemen pemasaran dan tata-niaga produk perikanan yang terstruktur secara baik, tersedianya perda yang melindungi para nelayan lokal dan usaha perikanan lokal. 

Selain perikanan tangkap, cakalang, NTT memiliki potensi luar biasa dalam budi-daya rumput laut, khususnya jenis cottonii dimana Indonesia merupakan produsen terbesar untuk jenis ini. Namun, sayangnya NTT sebagai wilayah supplier 80% Cottonii belum melakukan hilirisasi terhadap produk ini, minimal sampai tahapan keregenan atau tahap bahan penolong industri berikutnya. Rumput laut jenis Cottonii memiliki 70 produk turunan yang terbagi dalam 3 segment yaitu: konsumsi, kesehatan dan kosmetik. Beberapa komponen vital yang harus disiapkan Pemerintah Daerah NTT untuk menciptakan economy prime mover baru bagi rakyat NTT dari produk rumput laut ini, antara lain : pendidikan teknis keterampilan kepada para petani rumput laut, pendampingan, manajemen pembibitan, pengembang-biakan, produksi, hilirisasi, pemasaran, manajemen keuangan serta penciptaan eco system industri ini.

Garam, NTT memiliki potensi untuk menghasilkan garam dengan jumlah produksi yang melimpah, tergantung kepada keseriusan para elite pemerintahan di negeri ini bagaimana menyikapinya. Garam memiliki 20 produk turunan yang dapat membuat rakyat NTT sejahtera.  Kami pernah melakukan studi mendalam dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), diperoleh hasil bahwa NTT memiliki potensi untuk menghasilkan garam konsumsi dan garam industri sebesar 8 juta ton per tahun. Dan apabila hilirisasi industri garam dilaksanakan secara konsisten, maka dalam 5 tahun NTT akan menjadi wilayah yang makmur dan dapat memberikan kontribusi positif dalam penurunan angka kemiskinan di wilayah ini.

Apabila sub-sektor ekonomi kemaritiman ini dapat ditata dengan baik, maka sub-sektor ini akan menjadi prime-mover pengentasan kemiskinan untuk wilayah pesisir yang selama ini juga dikenal memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi.

5.2 Peternakan terintegrasi (yaitu program integrasi manajemen peternakan: pembibitan disediakan Unit Embrio Sapi Timor dan Sapi Ongol / Sapi Sumba, penggemukan, penyediaan industri pakan ternak, unit khusus kesehatan hewan, rumah potong hewan, packaging dan manajemen distribusi dan pemasaran). Mengapa paronisasi tidak memiliki keberlanjutan (1978-1988) ? persoalan utamanya adalah tidak ditata secara benar komponen-komponen utama dalam cattle business pada umumnya, yaitu pembibitan (breading), pakan ternak yang berkelanjutan, manajemen penggemukan (fattening), dan manajemen pemasaran (tata niaga). Demikian juga perlu dipertimbangkan tentang hilirisasi di bidang sapi potong ini, yaitu rumah potong hewan dan segmentasi produk daging yang dibutuhkan pasar. NTT tidak perlu biacara ekspor daging, cukup menyediakan daging sapi berkualitas untuk destinasi-destinasi wisata unggulan seperti Labuan Bajo, Sumba, dan Bali. Menciptakan suatu budaya baru dalam bisnis daging sapi potong berkualitas serta budaya makan daging berkualitas di seluruh wilayah NTT.

5.3 pertanian lahan kering, yaitu budi-daya pertanian lahan kering: tata kelola dan pelatihan untuk tanaman pinang, sirih, vanili, pala, kayu manis, bahkan zaitun serta tata niaganya. Pertanian lahan kering merupakan potensi yang luar biasa bagi NTT, khususnya untuk daratan Timor, sebagian di Flores, Alor, Rote dan Sabu. Pada wilayah-wilayah ini, sesungguhnya pertanian padi tidaklah ekonomis dan tidak sesuai dengan kondisi cuaca di sebagian besar wilayah NTT dibandingkan sirih-pinang yang nilai ekonomisnya lebih tinggi dibandingkan padi atau beras. Sirih-pinang saat ini telah menciptakan pangsa pasarnya sendiri di dunia industri kosmetik. Untuk sektor ini tentu memerlukan terobosan yang smart dari pemimpin daerah untuk membawa produk-produk lahan kering ini mendapatkan ceruk pasarnya yang spesifik.

5.4 sektor pariwisata, pemilihan sektor ini bukan menjiplak Bali, tetapi sesuai kekayaan alam dan budaya di NTT, yaitu Wisata Panorama Alam, Binatang Langka / Purba yaitu Komodo dan Budaya Penangkapan Ikan Paus, dan Wisata Budaya  berupa desa-desa wisata, yang dikemas dengan pusat-pusat kerajinan tenun, patung, dan handicraft khususnya di Flores, Sumba dan Timor. Sektor ini akan menjadi salah satu prime mover kebangkitan ekonomi NTT jika ditunjang dengan peningkatan infrastruktur dan manajemen pariwisata yang mumpuni, dan salah satu komponen yang jangan terlupakan adalah hospitality, cleanliness and safety yang sangat menentukan keberhasilan bisnis ini.

5.5 sektor Kerajinan / Industri Rumah Tangga, pemilihan sub-sektor ini sesuai dengan budaya local NTT salah satu yang dapat diharapkan adalah bertenun. Kreasi tenun yang melegenda ini, harus dikembangkan secara serius, kembangkan sektor hulu-nya dan hilirisasi-nya. Buatkan segmentasi pasar-nya, low-middle, middle-up and high-end, domestic market dan international market, siapkan secara serius industri besar fashion berbasis kreasi tenun se-NTT. Buka jaringan pemasaran di kota-kota besar Indonesia dan dunia. Usahakan masuk dalam National and International event, seperti Jakarta Fashion Week dan Paris Fashion Week.

5.6 Sub-sektor kuliner, Pemerintah Daerah harus berani melakukan terobosan di sub-sektor ini, terutama dari aspek kekhasan (memiliki ciri dan cita rasa yang khas), lakukan seleksi jenis kuliner cita rasa unggulan NTT. Kemudian aspek penyajian, aspek kebersihan atau kualitas pengolahan, kualitas layanan serta aspek market positioning. Ada teman asal Jepang pernah mengatakan kepada saya “ayo Daniel kita dirikan Restaurant Jepang di NTT”, saya bertanya : “memangnya ada raw-material-nya di NTT?”, dia katakana: “semua tersedia di NTT”.

5.7 sektor Transportasi: sektor ini akan menjadi prime mover pertumbuhan ekonomi, karena NTT adalah Propinsi Kepulauan, perhubungan laut dan udara memegang peranan penting dalam aliran orang dan barang, baik dari luar NTT, maupun antar pulau di NTT. Regulasi Pemda yang memotivasi investasi dan menciptakan kebijakan efisiensi biaya transportasi di sektor ini sangat strategis. Berbagai penerapan kebijakan yang bersifat taktis, termasuk cross-subsidies, bank loan facility, kemudahan perijinan, sistem penjadwalan transportasi laut yang pasti dan tepat waktu, sangat diperlukan.

6. Tingkatkan Peran Bank NTT dan BUMD di NTT untuk terlibat aktif dalam perang terhadap Kemiskinan :

6.1 Bank NTT saat ini sudah mampu menerapkan teknologi digital banking untuk kelompok usaha mikro dan kecil di NTT, peranan ini terus ditingkatkan dan diterapkan dalam program “perang terhadap kemiskinan di NTT”. Harus dikaitkan program-program kredit mikro, kredit UMKM dan Kredit Skala Komersil di Bank NTT dengan Program Perang terhadap Kemiskinan di NTT.

6.2 Mungkin perlu dipertimbangkan mengirimkan 7 (tujuh) orang Tim Pengentasan Kemiskinan ke Gremeen Bank Bangladesh untuk belajar bagaimana melalui kredit mikro mereka mengentaskan kemiskinan di Bangladesh hingga CEO nya Muhammad Yunus mendapatkan Nobel Perdamaian.

6.3 Tim Divisi Kredit Mikro, UMKM dan Komersil Bank NTT dimasukkan dalam Kelompok Kerja (Pokja) Perang Melawan Kemiskinan NTT, baik ditingkat Propinsi dan Kabupaten, Kecamatan serta Desa.

6.4 Bekali Pokja Perang Melawan Kemiskinan NTT dengan keahlian, pengetahuan, wawasan, kreatifitas, budaya kerja proaktif dan produktif, serta militansi dalam upaya melawan kemiskinan di NTT.

6.5 Masukan dalam kurikulum Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas, pengetahuan tentang Program Melawan Kemiskinan di NTT. Sosialisasi kurikulum ini dilakukan oleh Pokja Perang Melawan Kemiskinan di NTT.

APAKAH NTT HARUS TETAP MISKIN ?

Seharusnya NTT bisa mencapai persentase kemiskinan yang rendah seperti Bali, mengapa ?

Pada tahun 1985 pada saat NTB berhasil dalam swasembada beras, seorang pengusaha lokal NTT sedang berjuang Menyusun rencana besar di Jakarta untuk melakukan Industrialisasi Garam NTT, yang rencananya akan di pusatkan di Ketewel (saat ini di wilayah Sumba Barat Daya), dengan nilai investasi US$300juta (atau Rp.4,5Trilliun saat ini). Rencana ini apabila berhasil akan berdirilah Pabrik Garam terbesar di Asia yaitu PT Samudera Raya Katewel. Ijin-ijin sudah diperoleh dari Pemerintah Pusat, Feasibility Study disusun oleh Tim dari Jerman, industri garam ini rencananya akan memproduksi 8 juta ton garam per tahun. Rencana jangka menengah menghasilkan produk turunan dari garam berupa industrialisasi produk kesehatan dan kosmetik, [ada 20 produk turunan dari garam untuk skala industrialisasi menengah dan besar]. Namun, sayangnya pengajuan ijin kepada Gubernur NTT waktu itu ditolak, dengan pertimbangan bahwa Pemprov NTT akan membangun pabrik garam di Sulamu, [apakah sudah dibangun?, tidak juga], apakah ini yang disebut dengan institusi ekstratif yang menghambat upaya-upaya demokratisasi ekonomi rakyat? [Daron Acemoglu dan James A. Robinson “Why Nation Fail”].

Sesuai dengan potensi ekonomi kelautan NTT, dimana Garam merupakan salah satu “prime mover” untuk mengatasi kemiskinan, khususnya kemiskinan petani garam, yang seharusnya mereka “kaya”. Seperti Propinsi NTB yang memiliki keunggulan pada sektor pertanian khususnya padi, dan mereka berhasil dalam 2 (dua) periode Gubernur, yaitu Gubernur Wasita Kusumah (1966-1978) yang telah memulai pembukaan persawahan baru seluas 21.950 hektar untuk padi Gora dan Padi Bimas, dan Gubernur GORA Gatot Soeherman (1978-1988) dengan membuka persawahan seluas 26.000 hektar di Lombok Selatan, sehingga NTB mendapatkan predikat Swasembada Pangan; demikian pula NTT dengan pabrik Garamnya, seharusnya dapat memberikan kontribusi sehingga Indonesia bahkan bisa swasembada Garam, karena waktu itu Indonesia masih meng-import Garam 2 juta ton per tahun.

Pada tahun 1952 – 1963 di Kupang berdiri sebuah pabrik daging dan ikan kaleng ICAFF (Indonesia Canning and Freezing Factory) yang berdiri di atas tanah Raja Kupang Bapak Don Alfonso Nisnoni, pendirinya adalah para Pengusaha Lokal Kupang dan Para Pemimpin Pergerakan di Kupang, termasuk pengusaha ternak waktu itu Lie Tie Pau, Umar Baktir (Pemilik Bioskop Kupang Theater), dan lain-lain. Tahun 1963 pabrik ini ditutup karena kekurangan bahan baku pembuat kaleng (tin plate). Sesungguhnya hal ini tidak akan terjadi apabila, Pemerintah Pusat waktu itu mendukung dengan kebijakan industrialisasi bahan penolong tersebut dapat dibeli dengan harga subsidi Pemerintah, namun karena di masa itu “politik sebagai panglima” (Orde Lama – Zaman Bung Karno), maka Sektor Ekonomi bahkan Politik Ekonomi belum menjadi perhatian yang serius.

Untuk mengakhiri tulisan ini, saya mengutip beberapa bait pidato Muhammad Yunus President Director atau CEO Gremeen Bank Bangladesh pada saat beliau menerima Penghargaan Nobel Perdamaian karena keberhasilan Gremeen Bank dan Muhammad Yunus dalam menurunkan angka penduduk miskin di Bangladesh sejak 1986 – 2006 mencapai 10 juta jiwa kaum miskin yang berhasil di bawa keluar dari kemiskinan. Kutipan ini merupakan kelanjutan dari kutipan pada halaman muka tulisan ini, sebagai berikut:

“Saya selalu meyakini bahwa menghapuskan kemiskinan dari muka bumi ini adalah persoalan niat”. Bahkan hari inipun kita belum memberi perhatian serius pada masalah kemiskinan karena yang berkuasa relative masih belum tersentuh olehnya. Banyak orang menjaga jarak dari masalah ini dengan mengatakan bahwa bila kaum miskin bekerja lebih keras, mereka tidak akan miskin”.

“Ketika kita ingin membantu kaum miskin, kita biasanya menyodorkan mereka bantuan amal. Seringkali kita memakai bantuan amal karena enggan mengakui pokok masalahnya dan menemukan solusinya. Bantuan amal menjadi cara untuk lepas tanggung jawab. Tetapi bantuan amal bukan solusi terhadap kemiskinan. Bantuan amal hanya mengekalkan kemiskinan dengan merebut inisiatif dari kaum miskin. Bantuan amal memungkinkan kita melanjutkan hidup tanpa mencemaskan kehidupan kaum miskin. Bantuan amal menyenangkan hati kecil kita belaka”.

(Muhammad Yunus, Bank Kaum Miskin, April 2007, halaman 237)

*) Daniel Tagu Dedo, S.E., M.Ak adalah mantan Direktur Utama PT Bank NTT 2009-2016, saat ini bekerja di Jakarta sebagai Chief Finance Officer (CFO) Perusahaan Terbuka yang bergerak di bidang Renewable Energy.

Pos terkait