Mengapa NTT Tetap Miskin, ini Pandangan Daniel Tagu Dedo (Bagian 2)

Daniel Tagu Dedo. Dokumentasi : istimewa

MENGAPA NTT 

TETAP MISKIN ? 

Bacaan Lainnya

SIAPA GUBERNUR & WAKIL GUBERNUR YANG AKAN MENGELUARKAN NTT DARI KEMISKINAN ?

Oleh : Daniel Tagu Dedo, S.E., M.Ak *)

Seperti yang telah diterbitkan sebelum nya oleh Media Online NTTAktual.net, tulisan dan pandangan Daniel Tagu Dedo dengan judul “ Mengapa NTT Tetap Miskin ? ” bagian 1, kali ini masuk di bagian 2. Dalam tulisan nya di bagian 2, Daniel Tagu Dedo menjadikan Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Bali sebagai perbandingan bagi Provinsi NTT dari aspek trend persentase kemiskinan.

Sebelum membahas lebih lanjut dari tulisan Daniel Tagu Dedo, mari kita sedikit lebih mengenal tentang figur Daniel Tagu Dedo itu sendiri.

Daniel Tagu Dedo. Dokumentasi : istimewa

Daniel Tagu Dedo yang lahir pada 1 Januari 1961 ini memiliki sejuta pengalaman di bidang Perbankan diantaranya yaitu :

  • Ketua Tim Bank Devisa PT Bank Bukopin (Tahun 1997).
  • Tim Go-Public PT Bank Bukopin (Tahun 2006).
  • Direktur Operasional PT. Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur/Bank NTT (Tahun 2008-2009).
  • Direktur Utama PT. Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur/Bank NTT (Tahun 2009-2016).
  • Dan saat ini Daniel Tagu Dedo menjadi Direktur Keuangan salah satu Perusahaan Energy di Jakarta.

Berikut tulisan Daniel Tagu Dedo dengan judul “ Mengapa NTT Tetap Miskin ? ” (bagian 2) dengan menjadikan Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Bali sebagai perbandingan bagi Provinsi NTT dari aspek trend persentase kemiskinan.

PROPINSI NTB & BALI 

Mari kita lihat 2 propinsi tetangga, yaitu NTB dan Bali; tingkat kemiskinan Propinsi NTB berada pada 13,68 % pada akhir 2022, sedangkan Propinsi Bali berada pada single digit 4,53%, bahkan berada di bawah angka kemiskinan Nasional yang berada pada 9,57%. Pada Grafik-2 berikut ini, kita coba membandingkan trend persentase kemiskinan NTT, NTB, Bali dan Nasional, kemudian kita akan coba analisis program-program apa saja di ketiga propinsi tersebut yang menyebabkan trend-nya berbeda, bahkan sangat signifikan.

Dokumentasi : istimewa

MENGAPA NTB BISA LEBIH BERHASIL DALAM MENGATASI KEMISKINAN DIBANDINGKAN NTT ? 

Menurut data dan informasi yang diperoleh, beberapa faktor di bawah ini yang merupakan trigger berhasil diturunkannya tingkat kemiskinan di NTB, yaitu :

  • PEMIMPIN DAERAHNYA MAMPU MEMILIH SEKTOR UNGGULAN YANG TEPAT:

Tahun 1984, NTB berhasil mencapai swasembada pangan karena surplus produksi beras hingga saat ini. Gubernurnya adalah Gatot Soeherman (1978-1988). Inilah gubernur yang dijuluki gubernur GORA. Pada masanya sejarah tertoreh; NTB memberikan kontribusi terbesar terhadap swasembada pangan bagi Indonesia pada 1984. Buah dari Operasi Tekad Makmur (OTM) yang mulai dilakukan pada musim tanam 1980-1981 di areal seluas 26.000 hektar di Lombok Selatan dengan mendorong intensifikasi padi gogo rancah (Gora). Inilah operasi pertanian yang mungkin terbesar di era orde baru dan sekaligus tersukses capaiannya.

  • MELIBATKAN SELURUH KEKUATAN SOSIAL DAN BUDAYA YANG ADA DI WILAYAH TERSEBUT, PROGRAM BERSIFAT INKLUSIF :

OTM melibatkan TNI, tokoh-tokoh agama dan pemuka masyarakat secara masif. Terutama untuk menumbuhkan keyakinan petani bahwa keadaan hidup mereka akan berubah lebih baik. 

  • PROGRAM DIPERSIAPKAN SECARA MATANG DAN DIEKSEKUSI DENGAN SISTEM MANAJEMEN YANG BAIK :

Secara teknis OTM dipersiapkan dengan matang. Waktu tanam di atur dengan tepat,  petani dan kelompok tani dilibatkan dengan manajemen yang baik, penyuluh pertanian di tambah dan mereka bekerja dua kali lipat lebih keras.

  • PROGRAM DILAKSANAKAN DALAM SKALA EKONOMI BESAR, SEHINGGA MAMPU MENARIK PERHATIAN PEMERINTAH PUSAT DAN MEMBAWA DAMPAK MULTIPLIER YANG BERKEPANJANGAN SERTA SUSTAINABLE:

Hasilnya ketika panen raya tiba, padi Gora tumbuh subur dan merata. Presiden Soeharto beserta ibu Tien Soeharto datang melakukan panen raya di Desa Teruwai, Lombok Selatan pada tanggal 17 Maret 1981. 

Pada konferensi lembaga pangan dunia (FAO) di Paris Prancis 1985, Presiden Soeharto datang ke acara dunia itu ditemani Gatot Soeherman. Sebagai satu penghargaan besar dari presiden dan FAO kepada petani-petani Gora di NTB, khususnya petani Gora di Lombok Selatan.

Keberhasilan Propinsi NTB mencapai swasembada beras di tahun 1984, terus dipertahankan secara konsisten sampai saat ini, bahkan dilakukan diversifikasi dengan program yang sama untuk perkebunan jagung yang berhasil dikembangkan dalam skala besar ribuan hektar. Hasilnya, persentase kemiskinan berhasil diturunkan selama 20 tahun terakhir ini.

PROPINSI BALI

Propinsi Bali yang merupakan Propinsi Induk Sunda Kecil, sejak masa Orde Lama telah memacu sektor Pariwisata sebagai Prime Mover pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan di Propinsi dewata tersebut.

Inilah satu-satunya Propinsi dengan tingkat kemiskinan yang rendah tanpa modernisasi yang merubah tatanan budaya masyarakatnya. Unik memang. Bandingkan selama lebih dari 20 tahun terakhir, tidak ada perubahan modernisasi yang meruntuhkan tatanan budaya dan kehidupan masyarakat Bali, tetap mempertahankan kekuatan budaya-nya, upacara-upacara agama yang menyatu dengan budaya masyarakat ternyata menjadi “modal utama” dari kemajuan ekonomi pariwisata di Bali. Walaupun ribuan hotel berbintang terkenal di dunia hadir di pulau dewata ini, namun ciri khas kebudayaan dan pola hidup masyarakatnya tetap sebagaimana 20 bahkan 50 tahun yang lalu.

Sektor Pariwisata dan UMKM khususnya kerajinan dan kuliner telah membuktikan Bali dapat menekan tingkat kemiskinan masyarakatnya di bawah rata-rata tingkat kemiskinan Nasional lebih dari 20 tahun terakhir ini.

Dokumentasi : istimewa

Pos terkait