NTT AKTUAL. KUPANG. Dalam rangka untuk lebih mendorong pertumbuhan ekonomi produktif di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Bank NTT dibawah kepemimpinan Direktur Utama (Dirut) Charlie Paulus siap untuk kembali mengaktifkan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di tahun 2026.
Dirut Bank NTT, Charlie Paulus kepada Wartawan Minggu (24/Mei/2026) usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Bank NTT Tahun Buku 2025 dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS LB) Bank NTT Tahun 2026 mengatakan penyaluran KUR kembali dijalankan mulai awal Juni 2026.
“Bank NTT saat ini memiliki cadangan modal yang cukup kuat yakni mencapai Rp449 miliar. Sebagaian dana tersebut telah digunakan untuk mendukung kesiapan operasional program KUR yang kembali diaktifkan tahun ini,” ucapnya.

Dirut Charlie menambahkan proses penyaluran KUR saat ini tinggal menunggu penyelesaian koneksi sistem dengan Departemen Keuangan. Sejak 2019 Bank NTT sempat berhenti menjalankan program KUR, sehingga perlu melakukan pendaftaran dan penyesuaian sistem kembali.
“Semua sudah beres, tinggal menunggu koneksi sistem komputer saja dengan Departemen Keuangan. Mudah-mudahan akhir bulan ini sudah bisa, dan awal Juni KUR Bank NTT sudah mulai berjalan,” ujarnya.
Bank NTT akan lebih selektif dalam menyalurkan KUR, pengalaman kredit macet di masa lalu tidak kembali terulang, karena penghentian KUR Bank NTT sebelumnya dipicu oleh tingginya angka kredit bermasalah, jelas Charlie.
“Masa lalu sebelumnya kredit macetnya cukup banyak, itu menjadi pengalaman pahit sehingga sekarang sistemnya diperbaiki dan penyalurannnya lebih selektif,” tandasnya.
Di tahun ini terdapat dua jenis KUR yang akan dijalankan, yakni KUR Mikro tanpa agunan dengan plafon hingga Rp100 juta dan KUR Kecil dengan plafon hingga Rp500 juta yang membutuhkan agunan, jelasnya.
“Program KUR ini akan difokuskan pada sektor-sektor usaha produktif seperti pertanian, peternakan dan berbagai usaha rakyat kecil lainnya yang dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” kata Charlie.
Dirinya mengingatkan agar KUR tidak boleh dipakai untuk konsumtif, dan fokusnya usaha produktif yang nyata benar-benar berjalan, pungkasnya. (NA)





