Karnaval Budaya Perdana Kota Kupang Pecah Antusiasme, Siap Jadi Agenda Tahunan Ikonik

NTT AKTUAL. KOTA KUPANG. Pemerintah Kota Kupang resmi mencatat sejarah baru dengan menggelar karnaval budaya pertama dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-140 Kota Kupang dan 30 tahun sebagai daerah otonom, Sabtu (25/April/2026). Karnaval yang berlangsung di Bundaran Tirosa Kota Kupang itu tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga tonggak lahirnya agenda budaya tahunan yang akan terus dikembangkan ke depan.

Hadir dalam acara ini, Wakil Wali Kota Kupang, Serena C. Francis, S.Sos., M.Sc, Ketua DPRD Kota Kupang, Richard E. Odja, Forkopimda Tingkat Kota Kupang, Anggota DPRD Provinsi NTT, Wakil Gubernur NTT periode 2018-2023, Josef Nae Soi, Deputi Kepala Kantor Bank Indonesia Perwakilan NTT, Ketua Forum Pembauran Kebangsaan Provinsi NTT, Ketua TP PKK Kota Kupang, Sekda Kota Kupang bersama para Asisten Sekda dan Staf Ahli Wali Kota, Ketua Dharma Wanita Persatuan Kota Kupang, para pimpinan perangkat daerah, para Direktur Perumda Kota Kupang, para camat dan lurah se-Kota Kupang, pimpinan instansi vertical dan perbankan, serta ribuan warga Kota Kupang yang antusias hadir untuk menyaksikan langsung karnaval budaya.

Bacaan Lainnya

Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, dalam sambutannya menegaskan bahwa karnaval ini adalah yang pertama kali digelar sejak Kota Kupang berdiri, sekaligus menjadi jawaban atas kerinduan komunitas etnis yang selama ini belum memiliki ruang ekspresi bersama.

“Ini pertama kalinya dalam 140 tahun sejarah Kota Kupang kita punya karnaval budaya seperti ini. Dan ini bukan untuk satu malam saja, tetapi akan kita jadikan agenda rutin setiap tahun, sebuah warisan untuk anak cucu kita,” tegasnya.

Mengusung tema Harmoni dalam Keberagaman, karnaval ini menghadirkan hampir 50 komunitas etnis yang menampilkan kekayaan budaya masing-masing, mulai dari busana adat hingga tarian tradisional. Antusiasme peserta dan masyarakat menjadi sinyal kuat bahwa event ini memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi magnet budaya baru di kawasan timur Indonesia.

Wali Kota menyampaikan optimisme bahwa karnaval ini akan semakin besar dari tahun ke tahun. “Tahun depan pasti lebih ramai. Semua akan berlomba menampilkan yang terbaik. Dan mimpi kami, suatu hari nanti event ini ditunggu-tunggu, bahkan hotel penuh karena orang datang dari berbagai daerah untuk menyaksikan karnaval budaya Kota Kupang,” ujarnya.

Lebih dari sekadar pertunjukan, karnaval ini juga berdampak langsung pada geliat ekonomi lokal. Pelaku industri kreatif seperti perias, penyedia busana adat, hingga penenun mengalami peningkatan permintaan yang signifikan. “Ini bukan hanya soal budaya, tapi juga menggerakkan ekonomi. UMKM hidup, industri kreatif tumbuh. Ini efek nyata yang kita lihat hari ini,” tambahnya.

Suasana malam semakin emosional ketika lagu “Rindu Rumah” dibawakan oleh Sky Band. Lagu tersebut menggambarkan kedekatan batin masyarakat dengan Kota Kupang, tentang keluarga, kenangan, kuliner, hingga keindahan senja yang selalu dirindukan. “Ke mana pun kita pergi, kita selalu ingat Kota Kupang. Itu yang membuat kita selalu rindu rumah,” ungkap Wali Kota.

Dalam momentum perayaan ini, Wali Kota juga mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga Kota Kupang sebagai warisan bersama yang harus dirawat untuk generasi mendatang. “Kota ini bukan hanya warisan dari leluhur kita, tetapi juga pinjaman dari anak cucu kita. Karena itu, kita harus menjaganya dengan penuh tanggung jawab,” pesannya.

Ia menutup dengan penegasan bahwa keberhasilan kota tidak hanya ditentukan oleh pemerintah, tetapi oleh kontribusi seluruh masyarakat. “Kalau Kota Kupang hari ini bercahaya, itu bukan karena satu obor besar, tetapi karena lilin-lilin kecil yang menyala di setiap rumah warga,” pungkasnya.

Tampak para peserta karnaval begitu bersemangat untuk menampilkan atraksi budaya dari daerahnya masing-masing meskipun malam semakin larut. Bahkan sesekali Wali Kota dan Wakil Wali Kota ikut terlibat dalam atraksi tersebut. Karnaval budaya perdana ini pun menjadi lebih dari sekadar perayaan, ia adalah awal dari tradisi baru, panggung bersama bagi keberagaman, dan langkah strategis menuju Kota Kupang sebagai destinasi budaya yang hidup dan membanggakan. (*PKP)

Pos terkait