Mengapa NTT Tetap Miskin, ini Pandangan Daniel Tagu Dedo (Bagian 1)

Daniel Tagu Dedo. Dokumentasi : istimewa

MENGAPA NTT 

TETAP MISKIN ? 

Bacaan Lainnya

SIAPA GUBERNUR & WAKIL GUBERNUR YANG AKAN MENGELUARKAN NTT DARI KEMISKINAN ?

Oleh : Daniel Tagu Dedo, S.E., M.Ak *)

Daniel Tagu Dedo. Dokumentasi : istimewa

Tulisan ini sebenarnya diperuntukan sebagai refleksi dalam memperingati hari jadi propinsi Nusa Tenggara Timur pada tanggal 20 Desember 2023, 65 tahun sudah usia propinsi ini, berdiri sebagai propinsi yang terpisah dari Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB) dan mungkin dapat menjadi salah satu referensi bagi para Cagub dan Cawagub NTT 2024-2029 dalam Menyusun program kerjanya.

Tulisan ini berdasarkan pengamatan langsung selama 8 (delapan) tahun bertugas di propinsi tercinta ini (2008-2016) dimana telah dilakukan penelitian dan penerapan pengentasan kemiskinan melalui penyaluran kredit mikro kepada 12.000 nasabah kredit mikro dengan total kredit yang disalurkan sebesar Rp.125milyar dengan NPL 0,98%. Dan selama lebih dari 19 tahun hidup dan dibesarkan di propinsi ini (1961-1980); serta pendalaman terhadap berbagai literatur penelitian tentang miskinnya propinsi ini, serta literatur-literatur yang berkaitan dengan perang terhadap kemiskinan dan pembangunan ekonomi, dan observasi terhadap berbagai hasil kerja nyata di dua propinsi tetangga yaitu propinsi Bali dan NTB yang berhasil keluar dari kemiskinan.

Mengapa NTT tetap termiskin di Indonesia? merupakan pertanyaan yang mengusik, apalagi membaca pidato Muhammad Yunus CEO Grameen Bank Bangladesh saat menerima penghargaan Nobel Perdamaian pada tahun 2006, ia mengatakan bahwa : 

“Kemiskinan tak punya tempat dalam tatanan masyarakat manusia yang beradab. 

Tempat kemiskinan yang layak adalah museum. 

Di sanalah kemiskinan akan tinggal. 

Ketika anak-anak sekolah pergi dengan gurunya berwisata ke museum kemiskinan, mereka akan ketakutan melihat kesengsaraan dan kehinadinaan martabat manusia. 

Meraka akan menyalahkan kakek-neneknya karena mentolerir kondisi tidak manusiawi ini dan terus membiarkannya menimpa bagian terbesar penduduk dunia sampai awal abad ke-21”

(Muhammad Yunus, Bank Kaum Miskin, April 2007, hal.237).

Kutipan sebagian kecil bait dalam pidato Muhammad Yunus tersebut di atas saya tempatkan sebagai titik awal pembahasan tentang mengapa NTT tetap miskin?.

DESENTRALISASI BERMANFAAT BAGI PENGENTASAN KEMISKINAN ?

Pada tahun 2002 saat pertama kali ditetapkan Sistem Desentralisasi Pemerintah Daerah (OTDA), tingkat kemiskinan NTT berada pada 30,74%, Kota Kupang sebagai Ibukota Propinsi waktu itu berada pada level 11,5% sedangkan Nasional 18,20%. Bagaimana trend kemiskinan NTT setelah 20 tahun dilaksanakannya OTDA? Tingkat kemiskinan propinsi NTT berada pada 20,05% pada Desember 2022 (turun 10,69%), dan Kota Kupang 8,61% (turun 2,08%); [lihat tabel-1 : Trend Persentase Penduduk Miskin Menurut Kabupaten/Kota di Propinsi Nusa Tenggara Timur dan Grafik-1 : Trend Kemiskinan NTT 2002 – 2022].

Dokumentasi : istimewa
Dokumentasi : istimewa

Dari tabel-1 dan Grafik-1 tersebut Nampak bahwa trend kemiskinan di NTT penurunannya 10,69% dari 2002 sampai dengan 2022, namun persentase rata-rata selama 20 tahun masih berada pada level 24,06%. Bahkan Kota Kupang yang selama 20 tahun hanya berhasil turunkan kemiskinan 2,08% artinya sudah optimal, dan mungkin tidak dapat diturunkan lagi apabila tidak ada upaya yang nyata dalam usaha melawan kemiskinan.

NTT MISKIN KARENA PERAN INSTITUSI POLITIK & EKONOMI YANG EKSTRAKTIF?

Propinsi Nusa Tenggara Timur masih menjadi Propinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi ke-tiga setelah Papua dan Papua Barat. Seandainya pada Tahun 1962, Papua tidak bergabung dengan Indonesia, maka saat ini Propinsi NTT merupakan Propinsi Termiskin di Indonesia.

Apa yang menyebabkan NTT sulit keluar dari tingkat kemiskinan yang sedemikian tinggi ? NTT telah dipimpin oleh 9 (Sembilan) Gubernur, sejak Gubernur Lalamentik, Suwandi, Mayjend TNI (Purn) Alhm.El-Tari, Brigjen TNI (Purn) Alhm. Ben Mboy, Alhm.dr.Fernandes, Mayjend TNI (Purn) Herman Musakabe, Alhm Piet A Tallo, Alm.Drs.Frans Leburaya, Dr.Viktor Laskodat,SH.,M.Kn; mereka adalah para pemimpin yang hebat dengan kelebihannya masing-masing, tetapi mengapa tingkat kemiskinan NTT masih berada pada peringkat-3 tertinggi di Indonesia. 

Kita tidak dapat lagi menyalahkan alam, letak geografi, budaya, gaya hidup maupun kekeringan wilayah NTT sebagai “momok kemiskinan” 

– Daniel Tagu Dedo, April 2024 – 

Karena telah tersedia banyak contoh tentang perbedaan antara wilayah / negara maju dengan wilayah / negara miskin, yang sesungguhnya bertetangga, seperti Korea Selatan yang kaya dan maju dibandingkan Korea Utara yang tertinggal, demikian juga di belahan Amerika, perbedaan antara Kota Nogales di Arizona Santa Cruz County yang rakyatnya hidup Makmur dengan pendapatan per kapita rata-rata warga di sana US$ 30,000 per tahun dibandingkan dengan Kota Nogales di Sonora disebelahnya yang berjarak beberapa meter yang berada di wilayah Negara Mexico.  

Menurut Colin Barlow dan Ria Gondowarsito dalam buku mereka Working with Nature Against Poverty (Bekerja dengan Alam melawan Kemiskinan), Southeast Asian Studies, Singapore, 2009, halaman 94 menyatakan bahwa : 

“East Nusa Tenggara (Nusa Tenggara Timur, or NTT) is the poorest province in Indonesia and one of the poorest regions of the world”

artinya :

“Nusa Tenggara Timur adalah Propinsi termiskin di Indonesia dan salah satu wilayah termiskin di dunia”.

Sangat menyakitkan apabila mendengar kata-kata seperti ini. Menurut laporan mereka; Propinsi Nusa Tenggara Timur mengalami pertumbuhan yang sangat lambat selama beberapa dekade terakhir dan kemungkinan besar akan terus mengalami kemajuan secara bertahap. Namun dengan infrastruktur dasar, fasilitas pendidikan dan kesehatan yang masih sangat buruk yang menyebabkan tingginya biaya transportasi, meluasnya angka buta huruf dan masalah kesehatan yang besar.  Perekonomian masih didominasi oleh pertanian (di pedesaan yang jauh dan terpencil tanpa sarana dan infrastruktur), disusul jasa pemerintah dan perdagangan. Beberapa wilayah di propinsi ini sangat miskin dan perlu mendapat perhatian khusus. Laporan ini didasarkan hasil penelitian mereka yang diterbitkan tahun 2009. 

Menurut JOURNAL OF DEVELOPMENT ECONOMIC AND SOCIAL STUDIES VOLUME 2 NO 1 TAHUN 2022 menyatakan : “Walaupun, peningkatan pertumbuhan ekonomi pada Provinsi NTT mengalami peningkatan di tahun 2015-2019 angka tersebut masih rendah jika di bandingkan dengan seluruh provinsi yang ada di Indonesia. Jika di bandingkan dengan pertumbuhan ekonomi secara Nasional atau seluruh provinsi di Indonesia, maka tingkat pertumbuhan ekonomi provinsi NTT berada pada peringkat ke 33 dari 34 provinsi di Indonesia”, (Widjajati,2022)

Seharusnya kondisi saat ini (tahun 2019-2024) jauh lebih baik, dengan terjadinya COVID-19 pada kuartal-I 2020 sampai dengan kuartal-III 2022 membuat perekonomian NTT semakin parah. PDRB NTT (produk domestik regional bruto) 2020: -0,84%, 2021: 2,52% dan 2022: 3,05% (Statitik Daerah Propinsi Nusa Tenggara Timur 2023), angka-angka ini menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi NTT dari pengaruh Pandemic Covid-19 belum sepenuhnya pulih sebagaimana trend pertumbuhan ekonomi sebelum pandemic Covid-19 yang berada rata-rata di atas 5%. (*)

Pos terkait