NTT AKTUAL. KUPANG. Fakultas Sains dan Teknik (FST) Universitas Nusa Cendana (Undana) terus memperkuat penetrasi literasi keuangan mahasiswa dengan mencetak wirausahawan muda berbasis kearifan lokal. Langkah taktis ini diwujudkan melalui kuliah umum bertema “Peningkatan Akses Keuangan bagi Pelaku Usaha Berbasis Komunitas Kampus” yang digelar di Aula FST Undana, Kupang, pada Rabu (1/Juli/2026).

Acara strategis tersebut menjadi momentum peluncuran program inovasi kurikulum bertajuk One School One Product (OSOP) yang diintegrasikan dengan skema pembiayaan perbankan regional. Otoritas dekanat bersinergi langsung dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT untuk memutus rantai ketergantungan lulusan sains-teknologi pada sektor pencarian kerja (job seeker), lalu mengarahkannya menjadi pencipta lapangan kerja (job creator).
Dari Bahan Mentah Menuju Konsep Hilirisasi Berdaya Saing
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, S.Si., Apt., yang hadir sebagai pembicara kunci (keynote speaker), menegaskan bahwa potret kemajuan suatu daerah di era modern sangat ditentukan oleh rasio jumlah wirausahawan mandiri. Gubernur Melki mengkritik kebiasaan ekonomi tradisional di NTT yang sekian lama terjebak pada pola menjual komoditas mentah, baik di sektor peternakan, kopi, rumput laut, hingga kain tenun ikat.
Guna merombak mentalitas tersebut, narasumber kuliah umum, Selvi H. Nange, M.Pub.Pol., memperkenalkan doktrin ekonomi taktis bertajuk “TAPA OKE JU”—singkatan dari Tanam, Panen, Olah, Kemas, dan Jual. Konsep ini mewajibkan mahasiswa untuk menyisipkan sentuhan teknologi olahan dan desain kemasan modern pada setiap produk lokal sebelum dilempar ke ceruk pasar.
“Kampus tidak lagi harus kita lihat sebagai tempat untuk mempersiapkan calon pekerja. Kita membutuhkan lulusan dengan mindset bisnis. Jangan lagi hanya tanam, panen, lalu jual bahan mentah. Nilai tambah ekonomi tertinggi justru berada pada proses mengolah dan mengemas produk,” tegas Gubernur Melki Laka Lena pada Rabu (1/Juli/2026).
Inkubasi “KUR Masuk Kampus” dan Etalase Desain Kain Tenun
Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., menyambut baik arah kebijakan ini dan menyatakan bahwa platform OSOP diwajibkan menjadi motor penggerak di setiap program studi. Melalui OSOP, setiap jurusan ditargetkan menghasilkan minimal satu produk unggulan komersial yang linear dengan bidang keilmuan masing-masing.
Sebagai instrumen pendukung, Pemprov NTT resmi membuka keran program “KUR Masuk Kampus”. Fasilitas finansial ini berfungsi menghubungkan gagasan kreatif mahasiswa dengan proses inkubasi bisnis, pendampingan legalitas, akses permodalan Kredit Usaha Rakyat (KUR), hingga jaringan pemasaran digital terpadu.
Implementasi konsep OSOP ini terbukti bukan sekadar wacana di atas kertas. Karlin Babys, mahasiswa Program Studi Tenun Ikat semester IV FST Undana, sukses mencuri perhatian lewat peluncuran merek Marafem Morris. Usaha rintisan berbasis desain dan penjahitan fesyen ini memanfaatkan motif tenun lokal NTT yang dikemas secara modern. Bisnis mahasiswa ini bahkan telah mampu menyerap tenaga kerja lokal dengan melibatkan para lulusan SMK dan penjahit di sekitar wilayah Kupang.
Mematikan Kutukan “Komoditas Murah” di Bumi Flobamora
Peluncuran program One School One Product (OSOP) yang dikawinkan dengan skema “KUR Masuk Kampus” di FST Undana ini membawa dampak perubahan struktural yang sangat krusial bagi ketahanan ekonomi makro di NTT. Selama ini, NTT terus didera kutukan kemiskinan musiman akibat kegagalan melakukan hilirisasi produk. Ribuan ton hasil bumi dipasarkan dalam bentuk bahan mentah dengan harga murah ke luar pulau, sementara masyarakat lokal harus membeli kembali produk turunannya dengan harga berkali-kali lipat lebih mahal.
Pola hilir yang lemah ini diperparah oleh potret ribuan sarjana teknik dan sains di daerah yang setiap tahunnya menambah angka pengangguran terbuka akibat hanya fokus berebut formasi ASN yang sangat terbatas.
Melalui intervensi modal KUR dan doktrin “TAPA OKE JU”, Undana secara radikal sedang memutus siklus kemiskinan struktural tersebut langsung dari hulu intelektual.
Dampak jangka panjangnya, riset dan tugas akhir mahasiswa sains-teknologi tidak akan lagi berakhir berdebu di rak perpustakaan sebagai dokumen mati. Pola ini mentransformasikan ruang laboratorium kampus menjadi inkubator industri kreatif berskala mikro. Ketika ribuan mahasiswa dibekali akses modal tanpa agunan sejak kuliah, mereka akan langsung mengunci nilai tambah ekonomi komoditas NTT di dalam daerah. Langkah ini secara instan menciptakan kemandirian ekonomi, menekan laju pengangguran terdidik, serta menyelamatkan identitas budaya lokal lewat inovasi produk yang berdaya saing global. (*Undana/NA)





