NTT AKTUAL. KOTA KUPANG. Sekda Kota Kupang, Jeffry E. Pelt, SH membuka talkshow bertajuk “Merawat Moderasi Beragama, Menguatkan Wawasan Kebangsaan” yang diselenggarakan oleh Pemuda Katolik Komisariat Cabang Kota Kupang bersama Senat Mahasiswa STIPAS Keuskupan Agung Kupang. Kegiatan berlangsung di Aula Kampus STIPAS Kupang, Sabtu (16/Mei/2026).
Talkshow tersebut menghadirkan sejumlah narasumber lintas agama dan tokoh masyarakat, di antaranya, Ketua STIPAS Keuskupan Agung Kupang, RD Dr. Florens Maxi Un Bria, S.Ag., M.Sos, Ketua UPP Pengembangan Teologi dan PAG Majelis Sinode GMIT, Pdt. Melky Joni Ulu, M.Th dan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah NTT, Dr. Syarifuddin Darajad, S.Sos., M.Hum.
Sekretaris Daerah Kota Kupang, Jeffry E. Pelt, yang dalam sambutannya menyampaikan refleksi pribadi tentang kehidupan toleransi yang sudah ia alami sejak kecil dalam keluarganya. “Keberagaman itu sudah ada di dalam darah keluarga kami. Kami hidup dengan perbedaan agama, suku, dan budaya. Dan kami merasakan sendiri bahwa kalau saling menghargai, hidup itu menjadi indah sekali,” ungkapnya di hadapan peserta talkshow.
Jeffry bahkan membagikan kisah keluarganya yang memiliki anggota keluarga berbeda agama, mulai dari Islam, Katolik hingga Protestan. Baginya, toleransi bukan sekadar slogan, tetapi praktik hidup sehari-hari yang terus dirawat dalam keluarga besar mereka.
Ia juga mengaku memiliki kedekatan dengan banyak organisasi kepemudaan lintas iman sejak masa aktivisme mahasiswa sebagai bagian dari generasi Cipayung 88. Hingga kini, komunikasi dan diskusi bersama tokoh-tokoh muda lintas organisasi masih rutin dilakukan. “Kita sering duduk bersama, minum kopi, berdiskusi tentang banyak hal. Karena bangsa ini hanya bisa kuat kalau anak mudanya mau saling mendengar dan berjalan bersama,” katanya.
Mengutip pesan mendiang Paus Fransiskus, Jeffry menegaskan pentingnya membangun jembatan persaudaraan di tengah keberagaman. “Paus Fransiskus mengatakan, kita dipanggil untuk membangun jembatan, bukan tembok. Kalimat ini sangat dalam. Di tengah situasi hari ini, mari kita membangun jembatan yang menghubungkan keberagaman kita,” ujarnya.
Ia pun mengapresiasi inisiatif Pemuda Katolik dan STIPAS yang dinilainya menghadirkan ruang dialog sehat bagi generasi muda untuk memperkuat moderasi beragama dan wawasan kebangsaan.
Sementara itu, Pastor Moderator Pemuda Katolik Komda NTT, RD Jefry Bonlay, menegaskan bahwa dialog lintas iman penting dilakukan agar generasi muda tidak terjebak dalam fanatisme sempit. “Fanatisme itu produk dari kebodohan. Karena itu kita harus duduk bersama, saling mendengar, saling berbagi pengalaman hidup supaya bisa berjalan bersama dalam perbedaan,” tegasnya.
Menurutnya, kehidupan bersama tidak mungkin dibangun tanpa komunikasi dan keterbukaan antarkelompok. Karena itu, ruang-ruang diskusi seperti talkshow tersebut menjadi penting untuk memperkuat kualitas hidup bersama di tengah masyarakat majemuk.
Ketua Pemuda Katolik Komcab Kota Kupang, Valentinus Kopong Masan, mengatakan bahwa tema moderasi beragama diangkat karena realitas sosial saat ini membutuhkan lebih banyak ruang edukasi dan refleksi bersama. “Moderasi beragama tidak boleh berhenti menjadi slogan bahwa NTT adalah Nusa Terindah Toleransi. Kita harus memastikan nilai itu benar-benar hidup dalam tindakan sehari-hari,” katanya.
Ia menilai generasi muda memiliki tanggung jawab besar menjaga persatuan bangsa melalui teladan hidup yang menghargai perbedaan. (*PKP)





