NTT AKTUAL. KUPANG. Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi NTT dan Kota Kupang bersinergi menginisasi program SIGAP (Sinergi Pengendalian Inflasi dan Hilirisasi) Cabai. Program ini merupakan lomba budidaya dan hilirisasi cabai rawit oleh SMA/SMK se-Kota Kupang dalam rangka pengendalian inflasi melalui strategi penguatan urban farming di Kota Kupang.
“Program ini diharapkan mampu melahirkan sekolah-sekolah yang produktif, kreatif, dan menjadi contoh pengembangan urban farming di lingkungan pendidikan. Dengan demikian, sekolah bukan hanya menjadi tempat belajar di dalam kelas, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran nyata dalam membangun ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi yang sejalan dengan program One School One Product (OSOP), serta menjaga stabilitas inflasi pangan dengan pendekatan inovatif”, ujar Selfi H. Ngane, Kepala Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda Provinsi NTT, dalam sambutannya ketika membuka kegiatan SIGAP Cabai 2026 di Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Kupang pada Kamis (23/Juli/2026).
SIGAP Cabai merupakan wujud kerja sama lintas sektoral TPID bersama BBPP Kupang untuk mengembangkan kewirausahaa siswa/i SMA/K se-Kota Kupang sesuai praktik budidaya best practices. sebanyak 200 peserta perwakilan dari 49 SMA/K sederajat se-Kota Kupang melaksanakan pelatihan di BBPP Kupang untuk meningkatkan keilmuan terkait dengan budidaya cabai yang baik dan benar di lingkungan sekolah.
Nantinya, sekolah sekolah ini akan diberikan sarana dan prasaran berupa bibit dan sarpras untuk dibudidayakan menjadi tanaman cabai siap panen. Hasil dari budidaya ini dapat dimanfaatkan oleh sekolah untuk keberlanjutan program kewirausahaan di sekolah sekolah dan juga menumbuhkan minat generasi muda pada sektor pertanian, sekaligus memperkuat ketersediaan pangan lokal.
Dalam jangka panjang, pengembangan urban farming di lingkungan sekolah dapat menjadi salah satu upaya mendukung pengendalian inflasi pangan di Kota Kupang.
Selanjutnya, hasil budidaya cabai dapat dikembangkan melalui kegiatan hilirisasi menjadi berbagai produk olahan. Produk seperti sambal, cabai bubuk, pasta cabai merupakan produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi untuk keberlanjutan program. Hal ini juga menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi, baik dalam menciptakan variasi rasa, bentuk produk, desain kemasan, maupun strategi pemasaran yang menarik. Inovasi produk hasil urban farming diharapkan mampu memperkuat kewirausahaan sekolah, diversifikasi pangan lokal, serta mendukung pengendalian inflasi pangan di Kota Kupang. (*BI)





