NTT AKTUAL. KUPANG. Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana (Faperta Undana) Kupang resmi memperluas ekspansi akademik horizontal di kawasan timur Indonesia. Otoritas dekanat menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) strategis bersama Fakultas Pertanian Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Maluku Utara, di Ruang Dekan Faperta Undana, Kupang, pada Rabu (1/Juli/2026).
Kesepakatan ini ditandatangani langsung oleh Dekan Faperta Undana, Dr. Tomycho Olviana, S.P., M.M.A., bersama Dekan Faperta Unkhair, Ir. Lily Ishak, M.Si., M.Nat.Res., Ph.D. Langkah ini merupakan aksi nyata hulu-hilir untuk mendongkrak mutu Tri Dharma Perguruan Tinggi, sekaligus sebagai tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) antarrektorat kedua universitas negeri tersebut.
Akses Jalur Internasional Timor-Leste dan Replikasi Sukses Agribisnis
Melalui PKS ini, kedua fakultas sepakat membuka keran program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), magang mahasiswa, hingga riset kolaboratif berskala nasional dan internasional. Menariknya, Faperta Undana kini berkesempatan membidik jaringan internasional yang telah dimiliki oleh Unkhair, termasuk akses kerja sama ke negara Timor-Leste. Guna menghemat efisiensi anggaran, sebagian besar implementasi program kurikulum ke depan akan dilaksanakan secara hibrida (online).
“Ke depan akan ada penelitian bersama, pengembangan kurikulum, program MBKM, magang mahasiswa, serta berbagai kegiatan kemahasiswaan berskala nasional. Kami juga membahas peluang kerja sama internasional melalui jejaring yang telah dimiliki Universitas Khairun, termasuk dengan Timor-Leste,” urai Dr. Tomycho Olviana pada Rabu (1/7/2026).
Di sisi lain, Dekan Faperta Unkhair, Lily Ishak, menyoroti target spesifik kementerian terkait peningkatan mutu akreditasi. Unkhair memilih Faperta Undana sebagai mitra tolok ukur (benchmarking) karena tertarik menduplikasi kesuksesan tata kelola dan kurikulum Program Studi Agribisnis Undana yang dinilai berkembang sangat pesat di wilayah kepulauan.
Selain penguatan kurikulum, kedua lembaga berkomitmen melakukan pertukaran reviewer jurnal ilmiah guna mendongkrak kualitas publikasi riset dosen di tingkat nasional maupun internasional. Sebelum penandatanganan ini, rombongan Unkhair juga menyempatkan diri mengunjungi Unit Laboratorium Biosains Terpadu Undana serta Galeri Dharma Wanita Persatuan (DWP) Undana untuk mengoleksi produk kain tenun khas NTT.
Mengawinkan Dua Karakter Agroekosistem yang Berlawanan
Unsur pembeda paling krusial dalam kerja sama ini terletak pada upaya mengawinkan dua karakteristik agroekosistem yang bertolak belakang. Nusa Tenggara Timur dikenal sebagai wilayah kepulauan yang didominasi lahan kering beriklim semi-arid (curah hujan rendah/kering). Sementara itu, Maluku Utara memiliki karakteristik wilayah kepulauan dengan lahan kering yang dipengaruhi oleh iklim basah.
Perbedaan mencolok ini dinilai bukan sebagai hambatan, melainkan modal sains yang sangat besar untuk melahirkan inovasi varietas tanaman pangan baru yang adaptif terhadap berbagai spektrum perubahan iklim global ekstrem.
Meruntuhkan Teori Pertanian Kontinental demi Kedaulatan Pangan Wilayah Kepulauan
Kolaborasi spesifik antara Faperta Undana dan Unkhair Ternate dalam mempertemukan riset semi-arid dan iklim basah ini membawa dampak perubahan praktis yang sangat krusial bagi kedaulatan pangan di wilayah kepulauan Indonesia Timur. Selama ini, kiblat ilmu pertanian di Indonesia didominasi oleh teori-teori berbasis lahan basah kontinental (daratan luas) seperti di Pulau Jawa.
Akibatnya, berbagai cetak biru kebijakan ketahanan pangan nasional sering kali gagal total ketika dipaksakan di wilayah kepulauan NTT dan Maluku Utara yang memiliki karakteristik tanah, iklim, dan topografi yang jauh berbeda.
Melalui perkawinan riset agroekosistem kepulauan ini, Undana dan Unkhair secara langsung sedang mematahkan ketergantungan pada teori impor tersebut.
Dampak jangka panjangnya, riset hibrida dari kedua kampus ini akan melahirkan teknologi tepat guna, seperti benih unggul adaptif iklim ekstrem, sistem irigasi hemat air, hingga manajemen rantai pasok agribisnis antar-pulau. Langkah ini akan langsung menjawab problem gagal panen kronis dan tingginya harga pangan di wilayah timur, sekaligus memastikan petani lokal di pelosok NTT dan Maluku Utara mampu berdaulat di atas tanah mereka sendiri tanpa bayang-bayang krisis pangan menahun. (*Undana/NA)





