NTT AKTUAL. SOE. Sebagai upaya mendorong kemandirian ekonomi masyarakat sekaligus menjaga konservasi lingkungan di kawasan penyangga, Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) bekerja sama dengan Majelis Sinode GMIT dan Klasis se-Kabupaten Timor Tengah Selatan sepakat menandatangani dokumen Perjanjian Kerja Sama (PKS) budidaya dan pengembangan komoditas kopi di Desa Oelbubuk, Kecamatan Mollo Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Kamis (23/April/2026).
Acara tersebut ditandai dengan penanaman secara simbolis anakan kopi di lahan perkebunan milik Kelompok Tani Sion di Desa Oelbubuk, yang dilakukan oleh pejabat daerah, antara lain Bupati TTS, Eduard Markus Lioe, Wakil Bupati TTS, Jhony Army Konay, Asisten 1 Setda TTS, Denny Nubatonis, dan Ketua Sinode GMIT, Pendeta Samuel B. Pandie. Turut hadir dalam acara tersebut para Ketua Klasis se-Kabupaten TTS, Pimpinan OPD lingkup Pemkab TTS, Forkopimcam, dan perwakilan petani se-Kecamatan Mollo Tengah.

Bupati Timor Tengah Selatan, Eduar Markus Lioe dalam sambutannya menjelaskan bahwa pemerintahannya telah menetapkan sektor pertanian sebagai prioritas utama pembangunan daerah, dengan sub sektor perkebunan sebagai penggerak ekonomi masyarakat.
“Dalam kerangka tersebut, komoditas kopi ditetapkan sebagai komoditas unggulan daerah yang harus terus dikembangkan secara serius, terencana, dan berkelanjutan” ujarnya.
Lebih lanjut, Bupati Buce Lioe (sapaan akrab Eduard Markus Lioe) menegaskan Pemerintah Daerah telah dan akan terus memberikan dukungan nyata melalui penyediaan anakan/bibit kopi secara bertahap, pendampingan teknis oleh penyuluh pertanian, pelatihan budidaya dan pascapanen, fasilitasi akses permodalan dan pemasaran, serta pembinaan berkelanjutan di lapangan.
“Saat ini, bibit kopi telah tersedia dan siap untuk ditanam sehingga tidak ada alasan untuk menunda pelaksanaan program ini. Pemerintah Daerah akan terus memberikan dukungan mulai dari penyediaan bibit, pendampingan teknis, pelatihan, fasilitasi akses modal, hingga pembinaan berkelanjutan” tegasnya.
Bupati Buce Lioe di sela-sela acara tersebut mengatakan kemitraan antara Pemerintah Daerah dengan Sinode GMIT dan seluruh Klasis se-Kabupaten TTS bukan sekedar seremoni tetapi merupakan komitmen bersama untuk menggerakan kekuatan masyarakat berbasis jemaat dalam pembangunan ekononomi daerah.
Program ini akan dilaksanakan pada 14 Klasis sebagai basis pengembangan yang terstruktur dan terukur. Penanaman simbolis ini bukan sekadar seremonial, melainkan menandai dimulainya gerakan penghijauan produktif yang diharapkan dapat memberikan nilai tambah ekonomi jangka panjang bagi masyarakat khususnya petani, jelasnya.
Ia berharap agar program ini memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat pada umumnya dan peningkatan pendapatan petani pada khsusnya. Program ini juga diharapkan berdampak pada penurunan angka kemiskinan secara berkelanjutan. Menurutnya, kerja sama seperti ini tidak boleh berhenti pada penandatanganan dokumen tetapi harus dilanjutkan dengan aksi nyata di lapangan.
Pada kesempatan itu, Bupati Buce Lioe menyampaikan komitmen, harapan, penegasan dan instruksi yang secara kelembagaan ditujukan kepada Majelis Sinode GMIT, Klasis dan Majelis Jemaat, instansi teknis dalam hal ini Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP), para Camat dan Kepala Desa serta kelompok tani dan masyarakat untuk menggerakan partisipasi masyarakat/jemaat dalam program ini, memantau, mengevaluasi, mengendalikan perogram/kegiatan secara berjenjang, serta memastikan program ini berjalan secara efektif dan berkelanjutan.
“Sehubungan dengan hal tersebut, saya sampaikan hal-hal sebagai berikut:
1) Kepada Sinode, Klasis, dan Majelis Jemaat, saya harapkan untuk menggerakkan jemaat secara aktif agar terlibat dalam program ini, mendorong tanggungjawab dan etos kerja, mengorganisir kelompok jemaat agar program berjalan tertib dan berkelanjutan, dan secara khusus mengarahkan pola budidaya kopi dengan pendekatan agroforestri;
2) Kepada Dinas TPHP, saya tegaskan agar memastikan ketersediaan dan distribusi bibit tepat sasaran, melakukan verifikasi dan validasi calon petani dan lokasi, dan mengoptimalkan peran penyuluh (PPL, BPP, dan seluruh jajaran teknis), serta pendampingan mulai dari persiapan lahan, penanaman hingga pemeliharaan;
3) Kepada Pemerintah Kecamatan, saya tegaskan agar mengkoordinasikan seluruh desa dalam wilayah kerja, memastikan program berjalan lintas desa secara terarah, serta melakukan pengawasan dan pelaporan secara berkala kepada kabupaten;
4) Kepada Pemerintah Desa, saya instruksikan segera menetapkan kelompok sasaran, menyiapkan lahan yang sesuai, serta memastikan kegiatan penanaman benar-benar dilaksanakan oleh masyarakat; dan
5) Kepada Kelompok Tani dan masyarakat, saya tegaskan agar memanfaatkan program ini secara bersungguh-sungguh, siapkan lahan untuk lakukan penanaman sesuai arahan teknis, serta menjaga dan memelihara tanaman kopi secara berkelanjutan” tegas Bupati Buce.
Di akhir sambutannya, Bupati Buce Lioe mengajak masyarakat dan semua pihak untuk menjadikan momentum ini sebagai awal gerakan bersama membangun kemandirian ekonomi masyarakat.
“Mari kita jadikan momentum ini sebagai awal gerakan bersama untuk membangun kemandirian ekonomi melalui pengembangan kopi di Kabupaten Timor Tengah Selatan, mulai tahun 2026 dan seterusnya,” tutupnya.
Pantauan NTT Aktual, dalam acara tersebut ribuan bibit kopi didistribusikan kepada kelompok tani, dengan fokus pada penanaman di lahan kritis dan perbatasan hutan untuk mencegah erosi, sekaligus memberdayakan ekonomi masyarakat. Program ini diharapkan mampu meremajakan lahan perkebunan, menjadikan komoditas kopi lokal berdaya saing tinggi, serta mendukung pariwisata berbasis agrowisata di kawasan Oelbubuk dan sekitarnya. (NA)
Penulis : Miel Teftae
Editor : Nataniel Pekaata





