NTT AKTUAL. KUPANG. Nyanyian gereja tidak boleh berhenti pada keindahan suara dan harmoni. Lebih dari itu, nyanyian harus menjadi kekuatan untuk menguatkan iman, membangun persaudaraan dan menghadirkan pengharapan bagi sesama.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Johni Asadoma, pada pembukaan Lomba Paduan Suara Simfoni Persaudaraan GMIT Tahun 2026.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Menyanyikan Kasih Setia Tuhan pada Segala Waktu”, berdasarkan Mazmur 89:2-3, dengan subtema “Nyanyian yang Menyembuhkan: Gereja Bernyanyi sebagai Kesaksian Iman di Tengah Dunia yang Membutuhkan Pemulihan.”.
Atas nama Pemerintah Provinsi NTT, Wagub Johni menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan yang mempertemukan peserta dari berbagai daerah tersebut.
Menurutnya, tema yang diangkat sangat relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini. Di tengah berbagai tantangan dan persoalan kehidupan, nyanyian yang lahir dari iman dapat menjadi sumber kekuatan dan pengharapan.
“Nyanyian yang lahir dari iman dapat memberikan kekuatan, menghadirkan penghiburan, membangkitkan pengharapan dan menyatukan hati,” ujar Wagub Johni.
Wagub Johni menggunakan paduan suara sebagai gambaran kehidupan masyarakat NTT yang penuh keberagaman.
Dalam paduan suara, suara sopran, alto, tenor dan bas memiliki karakter berbeda. Namun ketika disatukan, perbedaan tersebut justru menghasilkan harmoni yang indah.
Demikian pula masyarakat NTT yang hidup dalam keberagaman suku, budaya, tradisi dan latar belakang.
Perbedaan, kata Wagub, tidak semestinya menjadi alasan untuk terpecah, tetapi dapat menjadi kekuatan ketika dibangun dalam harmoni.
“Kita tidak hanya ingin mendengar suara yang merdu, tetapi juga merasakan persaudaraan yang hidup melalui nyanyian,” tegasnya.
Karena itu, Simfoni Persaudaraan GMIT dinilai bukan sekadar ajang kompetisi paduan suara, tetapi juga ruang untuk memperkuat persaudaraan dan meneguhkan semangat kebersamaan di tengah keberagaman NTT.
Wagub Johni juga menekankan pentingnya peran gereja untuk hadir menjawab kebutuhan masyarakat. Gereja, katanya, dipanggil untuk menjadi bagian dari proses pemulihan, baik pemulihan hati, hubungan antarsesama, kehidupan sosial maupun harapan.
Ia berharap pesan kasih yang dinyanyikan dalam gereja diwujudkan melalui tindakan nyata di tengah masyarakat.
“Hidupkan nyanyian kasih itu dalam kehidupan sehari-hari melalui kepedulian kepada sesama, pelayanan, menjaga persaudaraan dan merawat lingkungan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak cukup hanya berbicara mengenai infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Pembangunan juga harus menyentuh aspek manusia, iman, karakter dan kehidupan sosial.
“Pembangunan bukan hanya tentang infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga tentang manusia, iman, karakter, persaudaraan dan kehidupan sosial yang harmonis,” katanya.
Karena itu, Pemerintah Provinsi NTT akan terus membuka ruang kolaborasi dengan gereja dan seluruh elemen masyarakat dalam menghadirkan pembangunan yang menyentuh kehidupan masyarakat.
Kepada seluruh peserta, Wagub Johni berpesan agar perlombaan diikuti dengan sukacita dan semangat memberikan penampilan terbaik, tanpa kehilangan makna utama dari kegiatan tersebut.
“Menang dan kalah adalah bagian dari perlombaan, tetapi persaudaraan yang kita bangun hari ini harus tetap tinggal dan menjadi berkat bagi kita semua,” pesannya.
Ia berharap setiap lagu yang dinyanyikan dalam Simfoni Persaudaraan GMIT menjadi kesaksian bahwa kasih setia Tuhan senantiasa hadir dalam setiap keadaan.
Sementara itu, Ketua Umum Pelaksanaan Simfoni Persaudaraan GMIT Tahun 2026, Jefri Pelt dalam laporannya menyampaikan pesta paduan suara tersebut merupakan yang pertama kali dilaksanakan oleh Majelis Sinode GMIT.
Ia menyebutkan bahwa kegiatan Simfoni Persaudaraan GMIT kali ini diikuit oleh 23 tim Paduan Suara dan akan dilaksanakan selama 3 hari pada 7-9 Oktober 2026.
Turut hadir pada kegiatan tersebut, Ketua DPRD Provinsi NTT, Emelia Nomleni, Direktur Utama Bank NTT, Charlie Paulus, Ketua Majelis Sinode GMIT, Samuel Pandie, Walikota Kupang, Christian Widodo, Ketua Umum Pelaksana Simfoni Persaudaraan GMIT, Jefri Pelt. (*BAP/NA)





