PIPEBI Hadir Ditengah Tangis Tanah Flores

NTT AKTUAL. FLORES. Di tengah tumpukan puing-puing bangunan dan duka yang menyelimuti, ada satu wujud nyata dari ketulusan hati bangsa ini yang hadir tanpa pamrih, yakni gerakan solidaritas kemanusiaan dari Persatuan Istri Pegawai Bank Indonesia (PIPEBI).

Dari ujung barat Sabang hingga perbatasan Merauke, bahkan meluas hingga perwakilan luar negeri seperti Tokyo dan New York, para ibu anggota PIPEBI menyatukan niat, merapatkan barisan, dan menyisihkan sebagian rezeki mereka untuk menggalang dana kemanusiaan.

Misi utama PIPEBI hanya satu: meringankan beban penderitaan saudara-saudara kita yang tertimpa musibah di Pulau Flores.

Sebagai sebuah organisasi perempuan yang selama bertahun-tahun konsisten bergerak dalam bidang pemberdayaan perempuan, UMKM, sosial, dan dunia pendidikan, pengurus pusat dan daerah PIPEBI memandang bencana gempa bumi ini bukan sekadar urusan distribusi logistik semata. Lebih dari itu, bencana ini menyangkut perlindungan martabat kaum perempuan, serta anak-anak di tenda-tenda pengungsian yang sangat rentan.

Gerakan penggalangan dana serentak yang digalang oleh jaringan luas PIPEBI menunjukkan hasil yang luar biasa. Berdasarkan rekapitulasi laporan resmi per tanggal 7 September 2026, total donasi tunai yang berhasil dihimpun oleh PIPEBI mencapai angka Rp300 juta.

Dari total dana tersebut, sebanyak 100 persen akan disalurkan secara transparan dan tepat sasaran dalam bentuk paket barang kebutuhan pokok, perlengkapan perempuan dan anak, serta obat-obatan spesifik, yang diserahkan kepada para penyintas di 7 kabupaten yang paling parah terdampak di Pulau Flores. Penyaluran ini melibatkan koordinasi erat dengan BPBD dan BNPB guna memastikan bantuan sampai kepada tangan yang benar-benar membutuhkan tanpa hambatan birokrasi yang rumit.

Flores Tidak Sendiri

Gempa tektonik berkekuatan M7.7 memang telah merobohkan 89.618 unit rumah dan merusak sendi-sendi kehidupan fisik di bumi Flores.

Namun, bencana alam sehebat apa pun tidak akan pernah mampu merobohkan semangat hidup dan ketangguhan masyarakatnya.

Pada tanggal 27 Agustus 2026, saya bersama Kepala Perwakilan BI NTT dan tim dari Bank Indonesia beserta Kepala Otoritas Jasa Keuangan Provinsi NTT terbang dari Kupang menuju Maumere di Pulau Flores. Perjalanan ditempuh dalam waktu 60 menit dengan pesawat ATR dalam bayang bayang Gunung Lewotobi yang kembali mengalami serangkaian erupsi intensif pada akhir Agustus 2026 ini.

Setiba di Maumere kami langsung menuju Pos Komando Tanggap Darurat Gempa Bumi Tektonik di daerah Madawat di Kota Maumere Kabupaten Sikka untuk memastikan koordinasi penyerahan bantuan berjalan dengan baik.

Kami diterima dengan hangat oleh Bupati Sikka Bapak Juventus Prima Yoris Kago dan Wakil Bupati Sikka Bapak Simon Subandi, beserta Tim BNPB yang dengan sigap menjelaskan kondisi pasca gempa di wilayah Flores yang telah memasuki minggu ke 3.

Dari Pos Komando di Madawat, kami bergerak ke Pos Pendukung Logistik Nasional BNPB Maumere di Bandara Frans Seda Maumere untuk menyerahkan bantuan BI yang telah tiba dengan pesawat Hercules sehari sebelumnya, kepada Kepala Pos Pendukung Logistik Nasional BNPB Maumere, Bapak Mayor Jenderal (Pur) Denny Herman untuk didistribusikan ke lokasi-lokasi terdampak bencana gempa bumi di Nagekeo, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Manggarai Barat, Flores Timur, dan tentu saja ke Kabupaten Sikka.

Pada pukul 11 siang, kami melanjutkan perjalanan ke arah timur kota Maumere ke Kangae, sebuah kecamatan kecil yang terdampak gempa, di mana puluhan orang masih tinggal di tenda tenda darurat sambil menanti penuh harap akan usainya gempa yang masih bagai tanpa henti mengguncang bumi Pulau Flores.

Perjalanan yang seyogianya ditempuh dalam tiga puluh menit menjadi hampir satu jam karena terdapat beberapa kerusakan jalan di medan yang cukup menantang melewati bukit dan jalanan terjal yang sesekali dihiasi jurang dan hutan di sisi kiri dan kanan kami.

Setiba di Kangae, kami langsung menuju sebuah pojok perkampungan di mana BPBD mendirikan tenda darurat bagi para warga, terutama para Ibu dan anak-anak.

Situasi menjadi sangat mengharukan saat kami disambut dengan antusias oleh warga  dan camat setempat. Saya menyempatkan waktu untuk duduk bersama dengan para Ibu yang duduk duduk di dalam tenda sambil mengasuh anak-anak mereka.

Tergeletak di lantai ada beberapa bantal, selimut, juga beberapa kasur lipat tipis yang tampak berdebu.

Alas terpal tipis yang terasa dingin di kaki saya, sangat kontras dengan udara di luar yang panas menyengat siang itu.

Di bawah naungan terpal oranye terang yang membentang di tengah area pemukiman warga di Kangae, Kabupaten Sikka, aroma minyak angin dan debu jalanan berpadu dengan kehangatan obrolan yang menyentuh relung hati.

Saya duduk bersila bersama Ibu Maria, seorang perempuan yang senyumnya tampak merekah saat kami pertama kali bertemu di posko. Senyumnya beberapa kali masih tampak hilang setiap kali angin berembus kencang. Dengan suara parau yang tertahan, ia berkisah tentang detik-detik mengerikan ketika tanah diguncang gempa dan suaminya tertimpa beton di teras saat berusaha melarikan diri.

“Yang paling penting anak anak saya selamat Bu, suami saya juga cuma luka ringan. Ada banyak tetangga yang luka luka karena kejatuhan dinding rumah atau genteng”, ucapnya lirih sambil sesekali memeluk erat anaknya yang berusia tujuh tahun. Di sampingnya, anak kecil itu tampak asyik membuka permen yang saya bawa dari Kupang, sepertinya jiwa anak anak memang lebih mudah teralihkan perhatiannya.

Tidak jauh dari tempat kami duduk, di dalam tenda pengungsian yang panas dan hampir penuh sesak dengan perempuan dan anak anak, beberapa orang lansia duduk bersandar pada dinding posko. Mata mereka menyiratkan kelelahan fisik dan mental yang mendalam. Di usia yang tak lagi muda, mereka terpaksa melewatkan malam-malam panjang di atas alas kasur tipis seadanya.

“Paling susah kalau malam hari, angin masuk ke tenda dingin sekali. Tapi saya sangat bersyukur Ibu datang bawa bantuan. Senang, ada banyak yang peduli pada nasib oma oma ini,” tutur salah satu perempuan lansia dengan senyum tipis penuh ketegaran.

Suasana haru mencair ketika dari arah luar terdengar gelak tawa riang anak-anak. Sekelompok bocah pengungsi tampak berkerumun membentuk lingkaran, antusias mengikuti kegiatan pemulihan trauma yang dipandu oleh relawan. Mereka berlomba-lomba mengeja dan bernyanyi mengikuti tuntunan dan instruksi dari teman teman relawan, membuktikan bahwa bara semangat belajar di bumi Flores tidak pernah padam meski gempa telah merenggut segalanya.

Dari Sabang hingga Merauke, dari kota-kota besar di Pulau Jawa seperti Jakarta hingga ke Pontianak di Kalimantan, para ibu hebat dari keluarga besar PIPEBI dengan penuh limpahan kasih sayang telah menyisihkan rezeki mereka. Penggalangan dana tulus bagi Flores yang berhasil mengumpulkan total 300 juta rupiah ini menjadi bukti abadi bahwa ikatan kekeluargaan bangsa Indonesia tidak pernah luntur oleh jarak geografis.

Inilah wajah sejati Indonesia

Ketika satu wilayah tercinta jatuh tertimpa musibah, seluruh pelosok Nusantara bahkan dari lain benua, akan secara serentak bergerak untuk mengangkatnya kembali berdiri tegak.

Ada asa yang nyata nyalanya di Bumi Flores, mari kita jaga kobarnya. Biarlah baranya tetap berpijar dan menjadi terang. (*)

Pos terkait