NTT AKTUAL. KUPANG. Bertempat di Kelompok tani One Heart Desa Kuimasi Kecamatan Fatuleu Kabupaten Kupang, Ikatan Alumni Universitas Nusa Cendana Fakultas Pertanian (Ikadana Faperta) Bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Faperta Undana, berkolaborasi melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat periode bulan Oktober 2024 melalui kegiatan Penyuluhan PGPR, Trichoderma serta Proses pembuatan dan penerapan Elisitor Biosaka, Sabtu (05/Oktober/2024).
Kegiatan ini dipimpin Ketua Ikadana Faperta Nixon M. Balukh, SP, M.Si, bersama beberapa alumni antara lain Antonia Laa, SP, Saptarina Silla, SP, Ade Dermawan, SP, M.Si, Ani Manuk, SP dan Ketua BEM Faperta Undana Gregorius Umbu Neka Jara Woli bersama beberapa Mahasiswa Faperta Undana antara lain Yulius Dapa Jalang, Sunardino Tara Dapamudang dan Jibrael Sanam.

Kegiatan ini terlaksana melalui koordinasi bersama Arlot Sanam Ketua Kelompok Tani One Heart. Kegiatan ini diikuti perwakilan dari 9 (sembilan) kelompok tani yaitu Kelompok Tani One Heart, kelompok tani Ebenhezer, kelompok Wanita tani Fajar Pagi, kelompok tani Anion, kelompok tani Mawar, kelompok tani Anugerah, kelompok tani Usaha Mandiri, kelompok tani Tolfeu, kelompok tani Harapan, juga diikuti mahasiswa dari Politani dan siswa SMK-PPN Kupang.
Hadir juga pada kesempatan ini para Penyuluh Pertanian Kecamatan Fatuleu Lodia Sioh, SP dan Fitriyah Setyawati, A.Md serta Kepala Desa Kuimasi Maksen Lifu yang menyampaikan terima kasih kepada Alumni Faperta Undana yang sudah datang mendukung pengembangan teknologi pada usaha tani kelompok tani serta berharap ada kegiatan-kegiatan selanjutnya dan juga Desa Kuimasi bersedia menerima mahasiswa pertanian untuk praktek/KKN bersama masyarakat petani.
Ketua Ikatan Alumni Faperta Undana (Ikadana Faperta) Nixon Balukh, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu perwujudan dari program kerja Bidang Pengabdian Masyarakat Ikadana Faperta yang dilakukan melalui Penyuluhan terkait PGPR dan Trichoderma serta Pembuatan dan Penerapan Elisitor Biosaka.
“Kami fokuskan pada kelompok tani kelas pemula dan kelas lanjut serta lahan-lahan petani/kelompok tani yang sudah ada pertanaman sehingga setelah praktek cara pembuatannya langsung diaplikasi pada lahan petani/kelompok tani dan akan dilanjutkan oleh para petani/kelompok tani,” ujarnya.
Sedangkan untuk mendukung penerapan biosaka maka Ikadana Faperta memberikan bantuan 1 unit Hand Sprayer Biosaka dan TDS (Total Dissolve Solid) Meter, bantuan PGPR, Trichoderma serta membagikan leafletnya.
Nixon Balukh dan tim biosaka (Ani Manuk, Ade Dermawan dan Emil Balo) juga menyampaikan bahwa kalau selama ini petani/kelompok tani menggunakan benih bermutu, pemupukan (organik/anorganik) berimbang, POC/PHC/ZPT dan Pestisida maka sekarang ditambah satu lagi yaitu Elisitor/Biosaka yang dapat dibuat sendiri dengan memanfaatkan tumbuhan sehat yang berada disekitar kita untuk mendukung peningkatan produktivitas dan produksi usaha tani para petani/kelompok tani.
Tim Biosaka (Nixon, Ani, Ade, Emil) dalam penjelasannya menyampaikan bahwa Elisitor Biosaka ini merupakan signal gelombang energi dan molekul yang memacu terbentuknya metabolit sekunder di dalam kultur sel atau zat kimia organik dari tumbuhan yang sehat yang apabila disemprotkan pada tanaman akan memberikan suatu sinyal atau mempengaruhi agar tanaman untuk lebih mengaktifkan genetik untuk menghasilkan suatu yang baik bagi tanaman.
Lebih Lanjut secara teknis Tim Biosaka Ikadana Faperta memberikan penjelasan dan praktek bersama mulai dari cara memilih bahan tumbuhannya, cara membuat/meremas bahan biosaka, cara mengukur dan memastikan biosaka yang dibuat berhasil sampai dengan cara melakukan penyemprotan pada tanaman cabai dan terong, yang didukung proses pada setiap tahapan oleh semua Tim Alumni Ikadana Faperta dan mahasiswa yang hadir pada kegiatan pengabdian masyarakat.
Pada sisi lain Tim PGPR dan Trichoderma (Antonia Laa dan Saptarina Sulla) menyampaikan bahwa PGPR adalah bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. Aktivitas PGPR dapat mempengaruhi secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh PGPR secara langsung adalah menyediakan dan memobilisasi penyerapan berbagai unsur hara dalam tanah. Selain itu juga berperan dalan sintesis dan pengontrolan konsentrasi berbagai hormo pertumbuhan tanaman. Secara tidak langsung, PGPR berperan melindungi tanaman dengan cara menghambat aktivitas pathogen.
Selain itu juga dapat memperbaiki struktur tanah serta mengikat logam berat yang terdapat di dalam tanah. Sedangkan Trichoderma merupakan fungisida hayati yang bermanfaat dalam mengendalikan jamur pathogen, dapat memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologis tanah. Berfungsi juga untuk mencegah penyakit layu fusarium/ layu bakteri busuk akar, busuk umbi, dan busuk pangkal batang. Tim juga bersama-sama dengan para peserta melakukan praktek pembuatan trichoderma. (**)





